Menggali Ilmu Bumi di Paris (Parangtritis): Gurun Parangkusumo dan Estuari Muara Kali Opak

Pagi itu pukul sembilan kami tiba di Parangtritis bersama panitia yang menjemput peserta di alun – alun Yogya. Cukup menyengat sinar matahari dengan lingkungan gurun Parangkusumo. Tempat kami berteduh pagi itu di bawah cemara laut pinggir jalan. Acara ini didominasi oleh mahasiswa geofisika namun ada beberapa mahasiswa fisika, geologi dan geografi. Segera kami langsungkan pemberian materi awal oleh Pak Andang Bachtiar tentang lingkungan Aeolian yang cukup unik dan misterius.

Setelah pengenalan kondisi geologi awal kami berjalan ke puncak gumuk pasir terdekat untuk observasi. Bersamaan dengan kami terlihat sekumpulan orang – orang yang sedang berlatih beladiri di kejauhan. Kami mengincar tiupan angin kencang dari Samudra Hindia untuk merasakan proses Aeolian yang terjadi saat ini di puncak gumuk pasir. Dari atas kami mengamati arah angin, keterdapatan vegetasi, juga morfologi bukit dan lembah gundukan – gundukan pasir yang membentang berkilo – kilometer. Setelah itu baru kami mengamati detil struktur sedimen gelembur gelombang yang diakibatkan oleh angin dominan dimana – mana. Perlahan kami genggam sambil amati butiran seragam yang berasal dari vulkanik terdekat, yaitu Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Observasi kami dibimbing oleh Pak Andang Bachtiar dan Mas Purnama Suandhi sambil menganalogikan di bawah permukaan. Diakhiri oleh foto bersama di teriknya matahari yang hampir tengah hari kami berlalu ke stop berikutnya, muara Kali Opak.

Beriringan menuju muara Kali Opak kami sempat tersasar karena posisinya yang jauh dari jalan utama. Kendaraan kami parkir di rumah terakhir sebelum pesisir. Terrain berpasir membuatnya tidak mungkin untuk terus menepi mendekati lokasi. Kami berjalan sekitar 50 meter menuju stop site. Kami menyusuri pinggiran pantai yang agak menggunduk yang bisa disebut sebagai barrier karena sesekali air laut melimpas sebelum ke laguna di baliknya. Lingkungan ini kami sebut sebagai estuari yang terlihat laut lebih menjorok ke daratan. Salah satunya disebabkan oleh kuatnya energi ombak dan arus dari laut mengalahkan supply sedimen dari sungai.

Tim dari GDA menyiapkan 3 core untuk sama – sama kami observasi dari 3 tempat yang berbeda. Yang pertama dari puncak barrier bar, kedua dari dekat muara kali dan ketiga dari laguna. Ketiganya kami display di booth HAGI. Coring dengan PVC yang kami lakukan bertahun – tahun berlangsung cepat tanpa ada kendala. Senang rasanya metode ini tertular ke amateur researcher lain di tingkat mahasiswa karena cukup simple namun efektif dan bermanfaat. Setelah usai kami lakukan pengamatan lalu kami kembali ke daerah wisata untuk santap siang dan siap – siap pulang ke habitat masing2 =) Oiya acara ini mengakhiri rutinitas kegiatan Free Field Trip for Geoscience student karena IAGI dan HAGI tahun ini sudah selesai dilaksanakan. Mungkin tahun depan bisa bekerja – sama dengan MGEI, AAPG, FOSI, IATMI atau organisasi kebumian yang lain demi memajukan komunitas geosain di Indonesia tercinta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *