Identifikasi Karakter Delta di Asia Tenggara bagian Selatan dan Papua Nugini dengan Metoda Pengindraan Jauh

Yudi S. Purnama*, Andi Krisyunianto**, Andang Bachtiar*

* Exploration Think Tank Indonesia

** GDA Consulting

Morfologi delta yang diklasifikasikan menjadi 3 ujung ekstrim: Delta Dominasi Sungai, Delta Dipengaruhi Gelombang, dan Delta Dipengaruhi Pasang-surut, menunjukkan perbandingan kekuatan relatif antara besarnya volume suplai sedimen darat melalui sungai ke laut atau danau dengan kekuatan modifikasi gelombang dan / atau pasang-surut laut atau danau.

Berdasarkan ketiga klasifikasi utama delta di atas, pemetaan karakter delta di Asia Tenggara bagian selatan -yang meliputi wilayah Malaysia, Brunei, Indonesia, dan Timor Leste- dan Papua Nugini dilakukan dengan metoda pengindraan jauh pada skala 1 : 100.000.

Dari hasil penelitian didapat beberapa penemuan penting. Teridentifikasi lebih dari 200 delta di Asia Tenggara bagian selatan dan Papua Nugini yang umumnya didominasi oleh karakter Delta Dipengaruhi Gelombang. Karakter delta tersebut menunjukkan kekuatan gelombang laut yang sedang. Delta Dipengaruhi Pasang-surut umumnya terbentuk di selat, teluk, dan passive margin yang mengindikasikan bahwa pengaruh pasang laut di daerah tersebut jauh lebih besar daripada pengaruh gelombang laut. Delta Dominasi Sungai umumnya hanya terbentuk di Pesisir Jawa bagian utara. Karakter delta tersebut terletak bersamaan dengan Delta Dipengaruhi Gelombang. Delta Dominasi Sungai di Pulau Jawa tersebut menunjukkan bahwa suplai sedimen dari sungai ke laut sangat kuat sebagai akibat interaksi dari keaktifan tektonik, tingkat pelapukan, tingkat penggundulan daerah tinggian (deforestation) dan jarak sumber sedimen (daerah tinggian) ke Laut Jawa yang relatif pendek. Selain itu, beberapa Delta Dominasi Sungai di Pulau Jawa dipengaruhi oleh aktifitas manusia. Delta-delta besar seperti Delta Mahakam dan Delta Mamberamo dengan lebar kipas lebih dari 30 km terbentuk di pesisir pulau besar dengan luas pulau lebih dari 500.000 km persegi, seperti Pulau Kalimantan (termasuk Brunei dan Malaysia) dan Pulau Papua (termasuk Papua Nugini). Hal ini menunjukkan bahwa suplai sedimen yang besar dari darat berbanding lurus dengan luasnya suatu pulau (daerah aliran sungai). Namun demikian, di kedua pulau tersebut terdapat juga faktor keaktifan tektonik dan jarak sumber sedimen ke laut yang relatif pendek dimana kedua faktor tersebut berperan penting dalam pembentukan delta dengan lebar kipas yang cukup besar. Hampir tidak ditemukan delta di Pesisir Jawa bagian selatan dan Pesisir Sumatra bagian barat yang mengindikasikan kekuatan gelombang Samudra Hindia yang terlampau besar sehingga semua sedimen yang dibawa oleh aliran sungai selalu didistribusikan ke tempat lainnya yang relatif jauh dari muara sungai tersebut. Berlawanan dengan penemuan di atas, terdapat banyak delta di Pesisir Papua bagian utara yang berbatasan dengan Samudra Pasifik. Papua bagian utara dipotong oleh Sesar Sorong yang aktif sehingga volume suplai sedimennya relatif besar dibanding kekuatan modifikasi gelombang Samudra Pasifik. Sungai-sungai yang berhubungan dengan delta di Pulau Timor, Pulau Buru dan Pulau Papua bagian timur laut, umumnya dicirikan oleh karakter sungai teranyam (braided river). Karakter delta tersebut dinamakan Braided Delta yang menunjukkan tingkat keaktifan tektonik yang tinggi. Selain tiga karakter utama delta yang telah dikenal, hasil penelitian mendapatkan beberapa karakter delta anomali yang menunjukkan modifikasi sedimen oleh gelombang laut atau pasang-surut laut sedemikan rupa sehingga menghasilkan karakter delta yang tidak ideal. Namun demikian, karakter tersebut masih memenuhi karakter dasar delta yaitu bentukan garis pantai yang menonjol ke arah laut atau danau yang dihubungkan oleh sungai (fluvial) dan distributary channel.

Scroll Up