Fieldtrip 100 Mahasiswa dan Dosen Geofisika – Geologi Universitas Syiah Kuala

Keberangkatan tim GDA Consulting kali ini menuju provinsi paling barat di Indonesia, Aceh. Dengan tujuan menghadiri sebuah undangan seminar dari teman-teman Universitas Syiah Kuala, dimana Pak Andang Bachtiar menjadi pembicaranya; sekaligus menjadi dosen tamu untuk mengajar di lapangan. Field trip Calang – Banda Aceh ini dihadiri oleh 100 mahasiswa dan dosen GeofisikaGeologi Unsyiah bekerjasama dengan GDA Consulting – Dewan Energi NasionalADPM (Asosiasi Daerah Penghasil Migas), hal ini sekaligus bagian dari kampanye “Kenalilah (sumberdaya) geologi daerahmu sendiri lebih dari daerah lain yang sedang dan akan kamu pelajari”, tutur Pak Andang yang dikutip dari status Facebooknya.

Setelah seminar tersebut terselenggara pada 2 Mei 2015 lalu, kuliah lapangan dilaksanakan pada tanggal 3 Mei 2015 bertempat di Calang; salah satu dari kawasan di pesisir barat Provinsi Aceh yang mengalami kerusakan terparah pada bencana tsunami dan gempa bumi pada tahun 2004.

Pak Andang selalu memberikan arahan mengenai Geologi suatu daerah, berawal dari Pelabuhan Calang, Pak Andang mengarahkan para peserta mengenai Geologi Regional Banda Aceh dan Calang dengan menjelaskan, bahwa dalam regional Calang akan menjumpai batuan berumur Tersier, sedangkan di Banda Aceh akan menjumpai batuan berumur Pre-Tersier. Setelah selesai briefing, mahasiswa melakukan doa bersama sebelum dimulainya acara dan langsung bergegas menuju stopsite 1.

Sekitar pukul 08.00 rombongan menuju stopsite 1, disana kami menjumpai singkapan shale marine yang terintrusi oleh dyke dan sill. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya baking effect disekitar tubuh intrusi. Selain itu, kami menjumpai sesar naik yang memotong shale maupun intrusi tersebut; yang mengindikasikan bahwa sesar tersebut terjadi setelah shale dan intrusi itu terbentuk. Stopsite ini juga ditemukan adanya lipatan rebah yang sangat ideal dan jarang sekali ditemukan di singkapan.

Dalam stopsite 2 tim GDA menjelaskan bahwa singkapan ini terdiri dari dua facies, yaitu fluvial sandstone di bagian bawah dan marine shale di bagian atas. Fluvial sandstone tersebut terdiri dari 2 sequence, dimana diantara kedua sequence tersebut terdapat lapisan tipis yang diindikasikan sebagai floodplain. Marine/tidal shale dicirkan oleh perulangan sand-shale, banyaknya burrow. Hubungan antara fluvial sandstone dan marine/tidal shale tersebut merupakan on lap dimana hal ini sangat ideal dan langka dijumpai disingkapan. Selama ini kita hanya mengenal istilah on lap berdasarkan interpretasi seismik.

Stopsite 3, masih dijumpai marine/tidal shale dan sandstone. Namun, yang menarik dari singkapan ini berada pada sandstone-nya. Sandstone pada singkapan ini tidak lagi terbentuk di lingkungan fluvial, melainkan terbentuk di lingkungan laut/laut dangkal. Hal ini dicirikan oleh adanya kandungan komposisi mineral glauconite pada batupasir tersebut.

Stopsite 4, dijumpai batuan pre-tersier berupa batuan intrusi dalam (batholith) yaitu granit. Granit tersebut tersingkap dalam keadaan sangat lapuk dan mudah hancur. Singkapan granit ini dapat diinterpretasikan sebagai granit wash maupun weathered granit ataupun fractured granit. Kondisi fisik dari granit yang lapuk tersebut dapat menjadi potensi reservoir yang baik.

Stopsite 5, Batuan pre-tersier tersingkap di lokasi ini. Batuan yang tersingkap terdiri dari filit di bagian bawah dan batugamping pada bagian atas. Singkapan ini telah terdeformasi sangat kuat, hal ini dapat dilihat dari bukti adanya struktur geologi pada singkapan tersebut berupa thrust fault dan normal fault di bagian bawah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *